Ternyata tenaga kerja Indonesia (TKI) adalah penyumbang dana terbesar ke negara kita. Mereka menyumbang sekitar US$ 4,37 miliar atau sekitar Rp 39,3 triliun setiap tahunnya.

Menurut Kepala Biro Humas dan Luar Negeri Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Bachtiar Arif mengatakan, jumlah TKI yang telah ditempatkan di 46 negara tujuan dalam 5 tahun terakhir mencapai angka 3,01 juta yang berasal dari 19 provinsi dan 156 kota/kabupaten di Indonesia. Kawasan penempatan TKI terbesar berada di Asia Timur Tengah dan Pasifik.

Berbagai pihak yang terlibat dalam proses penempatan TKI baik Lembaga Pemerintah maupun Swasta. Penempatan TKI di Luar negeri menambah pendapatan devisa negara yang mencapai Rp. 39,3 triliun. Sebenarnya diperkirakan angka ini bisa mencapai lebih tinggi lagi mengingat banyaknya TKI yang tidak resmi.

Pada tahun 2008, Endang Setianingsih (BNP2TKI), mengatakan “Total remitansi yang dapat dihasilkan oleh para TKI ilegal dapat mencapai sepertiga dari jumlah resmi”.

Menurut kajian ILO, remitansi yang dikirimkan oleh para TKI belum digunakan secara maksimal oleh para keluarganya. Mereka belum menggunakan uang tersebut untuk pengembangan usaha, melainkan membelanjakannya untuk keperluan sehari-hari, seperti makanan dan minuman.

ILO berharap, pendidikan keuangan dan pengembangan usaha dapat menjadi salah satu bahasan dalam pelatihan tenaga kerja. Selain itu, akses yang lebih baik terhadap layanan dan informasi keuangan sangat penting guna memastikan uang kiriman tersebut dapat dipergunakan untuk menabung dan investasi.

Disunting dari : Detik.com – Kompas.com (tahun 2008)