Indonesia diprediksi mampu menjadi perekonomian terbesar keenam pada masa super-cycle tahun 2025-2030 karena pertumbuhan ekonomi kelas menengah menjadi tulang punggung bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini.

Super-cycle sendiri merupakan suatu periode di mana perekonomian dunia tumbuh cepat sebagai dampak dari kombinasi beberapa faktor, misalnya saja kemajuan teknologi dan sumber daya alam. Dalam periode ini, Ekonom Standard Chartered, Eric Alexander Sugandi menyebutkan, ekonomi Indonesia diperkirakan bisa berada di bawah Amerika Serikat, India, Brasil, dan Jepang.

Prediksinya, kelas menengah Indonesia bisa mencapai 240 juta dari 330 juta penduduk nasional per tahun 2030. Atau, naik dari 57 persen dari total populasi nasional (2010) menjadi 78 persen pada 2030. Mengutip informasi Bank Dunia, kelas menengah ini adalah penduduk yang berpenghasilan 2-20 dollar AS per hari.
kelas menengah-menengah yang berpenghasilan 6-10 dollar AS per hari dan kelas menengah-atas yang berpenghasilan 10-20 dollar AS per hari akan mengalami pertumbuhan terbesar dibandingkan dengan kelas menengah-bawah yang berpenghasilan 2-6 dollar AS.

Ini karena kelas menengah-bawah lebih berisiko tinggi terhadap guncangan ekonomi ketimbang dua kelas lainnya. Dengan dasar itu, pelaku bisnis dan lembaga keuangan lebih menyasar kelas menengah-menengah dan menengah-atas.

Peran kelas menengah dalam pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari pertumbuhan permintaan pada barang, seperti mobil, motor, kartu kredit, housing, dan apartemen.