TUGAS PENALARAN DEDUKTIF

Penalaran deduktif adalah menarik kesimpulan khusus dari premis yang lebih umum. jika premis benar dan cara penarikan kesimpulannya sah, maka dapat dipastikan hasil kesimpulannya benar. penalaran deduktif erat dengan matematika khususnya matematika logika dan teori himpunan dan bilangan.

Pernalaran deduktif menurut E, Zaenal Arifin dan S. Amran Tasai yaitu, pernalaran deduktif bertolak dari simpulan yang didapat dari satu atau lebih pernyataan yang lebih umum. Penarikan kesimpulan secara deduktif dapat terbagi ke dalam 2 (dua) metode, secara langsung dan secara tidak langsung.

Penarikan kesimpulan deduktif secara langsung dilakukan dengan menarik simpulan secara langsung dari satu premis,  meliputi:

  • Semua S adalah P. (premis), Sebagian P adalah S. (simpulan). contohnya Semua ikan berdarah dingin (Premis), sebagian yang berdarah dingin adalah ikan (Simpulan)
  • Tidak satu pun S adalah P, (premis)  tidak satu pun P adalah S. (simpulan). contohnya tidak satupun nyamuk adalah lalat (Premis), tidak seekor lalat pun adalah nyamuk (Simpulan)
  • Semua S adalah P. (premis), tidak satu pun S adalah tidak P. (simpulan). contohnya Semua bom menggunakan bahan peledak (Premis), Tidak satu pun bom yang tidak menggunakan bahan peledak (Simpulan).
  • Tidak satu pun S adalah P. (premis), semua S adalah tidak P. (simpulan). contohnya Tidak seekor lalat pun adalah kecoa (Premis), Semua kecoa adalah bukan lalat (Simpulan)

Penarikan simpulan secara tidak lansung meliputi beberapa jenis, antara lain:

Silogisme adalah suatu proses pengambilan keputusan/kesimpulan (konklusi) dari 2 macam premis yang ada sebelumnya. Sehingga kita dapat menarik kesimpulan dari 2 premis yang ada sebelumnya yang kebenarannya sama dengan dua keputusan yang mendahuluinya. Contoh : Semua manusia pasti akan meninggal, Tono adalah manusia. Jadi, Tono pasti akan meninggal.

  1. Bentuk – Bentuk Silogisme
  • Silogisme kategorial, yaitu silogisme yang terjadi dari tiga proposisi. Premis bersifat umumut disebut premis mayor, premis yang bersifat khusus disebut premis minor, subyek simpulan disebut term  minor dan predikat simpulan disebut term mayor. Contohnya: Semua manusia adil, semua hakim adalah manusia, jadi semua hakim adil.
  • Silogisme  hipotesis, yaitu silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi kondisional hipotesis. Contohnya: Jika air dimasak hingga suhu 100 derajat celcius akan mendidih, air dimasak hingga suhu 100 derajat celcius, jadi air mendidih. Jika air tidak dimasak hingga suhu 100 derajat celcius, air tidak akan mendidih, air tidak dimasak hingga suhu 100 derajat celcius, jadi air tidak mendidih.
  • Silogisme alternatif, yaitu silogisme yang terdiri dari premis mayor berupa proposisi alternatif. Contohnya: Dia adalah seorang guru atau dokter, dia adalah seorang guru, jadi dia bukan seorang dokter.

Entimen, yaitu silogisme yang tidak mempunyai premis mayor, karena premis mayor sudah diketahui secara umum. Contohnya: Dia terpilih menjadi presiden karena dia unggul dalam jumlah suara pada pemilihan presiden.

Salah nalar merupakan Gagasan, pikiran, kepercayaan, atau simpulan yang salah, keliru, atau cacat. Dalam proses berpikir sering sekali kita keliru menafsirkan atau menarik kesimpulan, kekeliruan ini dapat terjadi karena faktor emosional, kecerobohan, atau ketidaktahuan. Contoh : Emilia, seorang alumni STIE Serelo Lahat, dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik. Oleh sebab itu, Halimah seorang alumni STIE Serelo Lahat, tentu dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik. Ada beberapa macam salah nalar, yakni sebagai berikut :

  • Deduksi yang salah adalah Simpulan dari suatu silogisme dengan diawali premis yang salah atau tidak memenuhi persyaratan. Contoh : Kalau listrik masuk desa, rakyat di daerah itu menjadi cerdas.
  • Generalisasi Terlalu Luas, Salah nalar jenis ini disebabkan oleh jumlah premis yang mendukung generalisasi tidak seimbang dengan besarnya generalisasi tersebut sehingga kesimpulan yang diambil menjadi salah. Contoh: Anak-anak tidak boleh memegang barang porselen karena barang itu cepat pecah.
  • Pemilihan Terbatas pada Dua Alternatif, Salah nalar ini dilandasi oleh penalaran alternatif yang tidak tepat dengan pemilihan jawaban yang ada. Contoh : Orang itu membakar rumahnya agar kejahatan yang dilakukan tidak diketahui orang lain.

 

Sumber :

  1. http://warnadangoresanpena.blogspot.com/2012/03/tugas-penalaran-deduktif-kenaikan-harga.html
  2. http://fardhinisabila.blogspot.com/2012/03/penalaran-deduktif.html
  3. http://ogieogin.blogspot.com/2012/01/penalaran-induktif-deduktif-dan-salah.html
  4. http://girlycious09.wordpress.com/2011/02/22/penalaran-deduktif-silogisme/
  5. http://risdiyantocbr.blogspot.com/2013/04/bahasa-indonesia-salah-nalar.html